Taat Prosedur, On time, dan Tetap Kreatif.

Catatan mengajar hari ini:
1. Prosedural
Mengajarkan prosedur, seringkali tertuduh dan terpojokkan dianggap sebagai penganut behavioristik sejati. Model ajar yang katanya, terlalu obsolet untuk jaman ini.
Bagi ranah non-relasi-komputer, sebuah ‘ketaatan ketat pada prosedur’ mungkin bisa dianggap mematikan kreatifitas. Sehingga banyak pengajar yang sengaja abai utk menyiapkan pengajaran prosedur. Alasannya, demi menumbuhkan kreatifitas atau memberi ruang untuk tumbuhnya kreatifitas.

Bagi ranah yang computer-related user, ketaatan prosedur itu adalah hukum dasar yang tidak berada di ranah yang sama dengan kreatifitas.
Prosedur is prosedur. Kreatif is kreatif. Dua entitas yang berbeda ranah. Yang satu tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk meniadakan yang lain.
Abai menyiapkan pengajaran prosedur, adalah dosa besar.

Well, saya kira, bagi dunia medis dan farmasi, ketaatan prosedur itu adalah harga mati. Tidak mengajarkan prosedur secara ketat, resikonya adalah nyawa.
Gampangnya, mari kita tengok prosedur ruang operasi. Prosedur operasi katarak, prosedur operasi usus buntu dan prosedur operasi bayi sungsang. Apakah sama? Bagaimana jika disamakan?

Menurut anda, dunia makin hari makin akrab dengan computer atau makin tidak akur?

Let me put it clear.
Sebagai pengajar, melihat jaman, kita seharusnya makin abai untuk mengajarkan prosedur atau makin ketat?

2. Logika kerja
Ternyata, yang paling menghabiskan waktu dan energi adalah mengajarkan logika. Terima kasih atas didikannya di rumah wahai para orang tua.
Besok besok, jika punya anak lagi, tolong rencanakan juga konsep mengajarkan logika berpikir dalam keseharian ya. Jangan cuma berusaha membelikan tab dan gadget aja. Dahulukan untuk mengajarkan logika, please.

Logika, tidak bisa diharapkan langsung ada, dan seketika ada, pada setiap anak. Logika, perlu dilahirkan, perlu ditumbuhkan, dan perlu dibiasakan.
Logika, akan diperlukan untuk melakuka observasi. Tahap paling sederhana dari kehidupan.
Mengaku constructivist, tapi tidak berkemampuan mengobservasi, ya mimpi.
Berharap anak menjadi produk pendidikan konstruktifistik, tapi tidak mengajarkan observasi, sama dengan ‘cuma mimpi’.
Observasi, hanya bisa dilakukan dengan baik, jika, si pengamar memiliki logika yang konektif dengan apa yang diamatinya.
Ini masalahnya.

Pengajar menargetkan tahapan observasi, namun, tidak menyiapkan anak untuk berlogika konektif terhadap yang dilihatnya. Hasilnya, mungkin ada laporan. Bentuk laporannya bagus. Tapi, si anak tidak mengingat satupun dari yang diamatinya.
What an education 😦
Sekolah yang keren 😦

Maka, alih alih menguber hasil, saya berpanjang panjang menjelaskan logika. Menyiapkan anak untuk memiliki batasan prosedur di tangannya. Dan ketat mengawasi tahap demi tahap yang mereka lakukan.
Sepanjang mereka bekerja, video tayangan target, terus diputar di depan kelas. Observasi dan self checking, bisa mereka lakukan setiap waktu.
Mengawasi bayi pun, kalah ketat.

Aturan apa apa yang boleh dan apa apa yang tidak boleh, disoundingkan setiap saat. Jika saya bosan, maka saya menuliskannya di papan. (Hari ini, papan saya penuh dengan prosedur)

Each and everyone tahu, bit by bit, bahwa kesalahan prosedur, adalah tetaplah sebuah kesalahan, yang dipahami bahwa pada tahapan berikutnya kesalahan itu akan membuatnya menuai badai. Logika, diperlukan untuk mengenali kesalahan prosedurnya disebelah mana. Karena menghafalkan tools, itu mumet.

3. Hari ini, saya berhasil membuktikan pada kelas bahwa ketaatan terhadap prosedur ketat, menentukan nilai salah dan benar nya pekerjaannya, revisi atau tidak. Sementara kualitas estetik, menentukan kemerdekaannya untuk memutuskan merevisi kerjaannya, atau tidak.
“Bener sih, tapi ndak asik” berarti dia boleh merevisinya, boleh juga tidak.

Salah-Benar dan Bagus-tidak bagus, adalah dua penilaian yang berbeda. Untuk alasan yang berbeda.
Lembaga pendidikan, mendahulukan keberhasilan mengajarkan hal hal yang benar, sebelum menguber yang bagus.

Logika belajar yang sederhana bukan?!

Taat prosedur dan On time, tidak sama dengan mematikan kreatifitas. Saya sudah membuktikannya di dua kelas hari ini.

Salah, maka suara saya akan menggema. Makin sering salah prosedur, maka akan makin seringlah suara cempreng saya menggema di ruangan.
Sebaiknya taat prosedur, paling tidak, lakukan ketaatan itu demi kenyamanan telinga anda sendiri. 🙂

Tidak ada siswa yang paling cerdas di kelas saya. Saya hanya menghitung yang paling bermasalah. Anda tidak lari mengejar kemampuan keterampilan teman teman anda, bersiaplah untuk bolak balik saya rasani di Edu.

::

“Ini kerjaan adik adikmu, dalam dua jam, dengan keributan kelas semacam ini” kataku.
“Owh biasa itu maam. Kalau kelas ndak ribut, berarti bukan kelas maam eny”
“Heh? Maksudnya?”

Dia hanya berusaha cerita, bahwa saya adalah tukang oyak oyak kelas. Dan kelas yang being dioyak oyak, ya tentu saja ribut.

Tapi kalimatnya membuat saya mikir.
Jangan jangan, kelas saya memang penghasil keributan yang terdengar sampai bermeter meter keluar kelas ya?
Dan most of all, adalah suara saya.
Aih …

::
Saya sekolah lagi demi apa?
Katakanlah tujuan saya sekolah tidak penting bagi Anda. Yang perlu anda pahami satu hal ini saja.
Menjadi pengajar, berarti mengambil tanggung jawab atas pembelajaran atau transer ilmu terhadap seseorang, yang agar efektif, segerombolan orang itu dikumpulkan saja dalam satu kelas.

Akan ada masa dimana pengajar akan dimintai pertanggung jawaban atas pengajarannya. Dan itu, bukan semata mata soal butir nilai belaka.
Tapi soal transfer ilmu, soal sikap para pebelajar atau penghuni kelas kita itu, dan soal kualitas pembelajaran kita.
Selain sekolah dan orang tua, apakah menurut Anda Tuhan tidak akan menanyakannya?
Asesmen yang paling berat, justru asesmen dari Tuhan. Yang dari asesmen itulah nilai evaluasi atas hidup kita akan ditentukan: Layak diteruskan hidup, atau sebaiknya dishutdown saja.

Mari menjadi lebih bertanggung jawab atas isi kepala anak anak kita. Karena isi hatinya, bukanlah urusan kita 🙂

Catatan mengajar hari ini, hari terakhir mengajar di tahun 2015.
Eny Erawati Munif.

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s