Suwuk Level Ustadz dan Suwuk Level Kyai

Bedanya para ustadz dan kyai (ku)
::
Kyai: saat saya sowan, kalimat pertama saya biasanya adalah, “dalem kangen Yi”.
Dan respon beliau biasa saja. Palingan, “owh …”. Tidak memberikan komentar ndak penting, tidak berprasangka apa apa juga. Yang paham makna, malah cerita panjang kali lebar. Karena sebenarnya, jika murid kangen gurunya, berarti dia sedang dehidrasi. Entah sedang dilanda kekeringan, atau sedang kehausan.

Ustadz:
Ketika saya berkata, kangen tadz. Responnya langsung kaget. Sedikit kaget. Dan semacam speechless. Masih muda. Santrinya belum ada yang aneh aneh. Belum terbiasa mendengarkan kalimat santri yang maknanya dalam.
Sehingga, perlulah untuk membantunya.
Saya njijris cerita ini atau itu. Agar beliau bertanya. Nanti lama lama, malaikat ilmu lak mbisiki qalb nya tah. Santri semacam aku ya kudu sabar. Wong biasanya kepanikannya sebentar.
Begitu qalbnya paham, maka logikanya, cara bahasa diudara sudah mulai nyaman. Saya bisa mulai mencari metode charger saya pada beliau.

Kadang tidak selalu ilmu yg bisa saya nyatakan. Tapi seringkali, sesi nge charge adalah sesi menaikkan energi saya dari orang yang saya anggap alim yang ada di depan saya.

Sang alim, tidak selalu ia yang kita sebut ustadz atau kyai. Sang alim, kadang adalah juga prof, dosen, guru, atau somebody unknown yang saya jumpai di kereta.
Yang penting energinya.

Ustadz biasanya memang energinya tidak besar. Tapi kalau kyai, atau biasanya saya sebut kyai beneran, energinya amat sangat besar.
Mentoknya besar energi adalah kalau bisa membuat kita ingat mati dan bertekad sholat dengan lebih berkualitas.
Sesedikitnya energi, adalah jika membuat kita agak lebih malu berbuat, berkata, atau berpikir buruk.

Kangen Yi,
Atau,
Nyuwun batere,
Adalah bahasa verbal murid, yang sedang membutuhkan tambahan energi.

Gus Ali, memberikan tangannya untukku, agar aku bisa salim.
Gus Mus, memberikan tasbihnya.
Kyai Masduqie cuma memandang ke arah mihrab perempuan, tatapan mata yang seolah sampai ke jantungku. Padahal, beliau yo ndak pirso aku lah. Terlalu jauh.
Kyai Marzuki, mengajak ngobrol ini itu, yang membuat saya bisa relaks di depan beliau.
Kyai Man … pokok aku sudi ndoprok di pintu, asal boleh mendengarkan beliau.
Tidak ada yang sadar bagaimana energi itu tertransferkan. Tidak ada yang melihatnya -bagaimana energi itu tertransferkan- dengan mata.
Dan hanya yang paham, yang bisa merasakannya.
(Jadi jangan ribut menanyakan dalilnya).

Transfer photon itu kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. CERN sedang on going menelitinya. Pokok kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Alat ukurnya, hanya aplikabel di lab, dan cuma disono.

Saya tidak butuh alat ukur itu. Saya merasa cukup, dengan diperkenankan bisa merasakan transer energi itu, dan mengalami proses efek nya yang semoga merubah kualitas ibadah saya menjadi lebih baik.

Kalau sedang parah, saya bisa spesofik minta suwuk. Tapi kalau soal kualitas sholat, karena saya malu mengakuinya juga, biasanya, saya cuma ndoprok saja di sekitar beliau, dan pasang kuping. Mendengarkan nasehat.

Pokok, mulih didungani.
Pokok, begitu pulang, didoakan dulu.

Beda tadz dan kyai,
Hanya bisa dirasakan oleh qalb juga sih ya. Ndak bisa diceritakan.

*hidupkan qalb anda, dan rasakan keindahannya.

enyerawati munif, 30122015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s