Sempitnya pengetahuan dasar yang membuat orang awam menjadi bingung

Pendahuluan

Sungguh tidak layak, ia yang menyebut dirinya pengayom masyarakat, justru bertindak membingungkan masyarakatnya.
Tindakan itu justru perlu dicurigai sebagai adanya sebab dari pergeseran fungsi utama pengayom masyarakat.
Sebab-sebab yang mencurigakan itu biasanya adanya hal hal yang berkaitan dengan uang, kursi kekuasaan, kekuatan pengaruh dalam masyarakat.
Tokoh agama, sebagai pengayom masyarakat, yang terindikasi mendedikasikan dirinya terpengaruhi oleh hal hal tersebut, perlu kiranya dihentikan saja status ketokohannya.

::
Logika dasar yang sengaja diputus

Masyarakat atau sering disebut awwam, adalah sekumpulan manusia yang heterogen model dan cara berpikirnya, yang tentu saja karena dibangun oleh kultur dan pengalaman hidup yang berbeda. Bagaimanapun perbedaan itu, ada satu benang merah yang kiranya seperti sengaja diputus dan dilenakan. Logika dasar itu, mendasari pemikiran dari seluruh pengambilan sikap masyarakat, apapun dan bagaimanapun model dan cara berpikirnya.

Muslim nusantara, dari dulu, dibiasakan memahami satu logika sederhana. Ulama dan umaro itu berbeda kelas dan berbeda meja kerja. Umaro adalah perencana dan pelaksana hal hal praksis. Manakala wisdomnya tidak mencukupi, ulama lah yang harus menambal kekurangan itu sehingga baik perencanaan atau pelaksanaan hajat hidup masyarakat tidak ternistakan apalagi sampai membuat manusia menjadi kehilangan martabatnya.

Ketika berorganisasi, ulama yang tentu saja diletakkan di garda depan ini, memilih orang yang akan menjadi perencana dan pelaksana kegiatan organisasi. Umaro nya organisasi itu disebut tanfidz. Berbeda istilah tapi hakikatnya sama. Meja kerja dan level keduanya tidak sama. Ulama tetap di level yang lebih tinggi dari bertugas menjaga ketimpangan wisdom dari ketatalaksanaan organisasi. Tanfidz tetap di level pelaksana, dibawahnya para ulama yang mengangkatnya.

Sederhananya, jika ulama menyuruh tanfidz menimbang sesuatu, maka si tanfidz harus meletakkan perintah itu sebagai tujuan, parameter, indikator dan tolok ukur evaluasi dari kinerjanya.

Sesungguhnya, jamaknya keheterogenan masyarakat sudah diresapi intisarinya oleh ulama. Maka, ketika beliau beliau menyuruh untuk menimbang sesuatu, maka tanfidz tak perlu kerepotan memikirkan groundbreakingnya lagi. Ibaratnya, ia tak perlu risau pada bab 1 dan bab 2 dari laporan action researchnya. Dia bisa langsung memakai perintah tersebut sebagai jiwa dari bab 3.

Logika sederhananya: tanfidz adalah sosok yang ‘dilahirkan’ oleh ulama. Maka jika para ulama memutuskan tak perlu tanfidz, maka tanfidz itu bisa dan boleh digulung oleh ulama, kapan saja. Para ulama ini, diwakili oleh mereka yang kemudian disebut dewan syuro. Dipilih berdasarkan tingkat kepangkatan Surat Perintah Kerja dari Rabbuna. Bahasa langit yang harusnya sah sah saja untuk tidak perlu dipahami oleh masyarakat.

Dengan mengatasnamakan demokrasi, logika sederhana itu sengaja diporakporandakan, agar dapat diputus. Mininal dilenakan.

Oleh siapa? Saya tidak akan membahasnya disini. Background kepentingannya apa? Saya tidak ingin menjadi agen iklan branding mereka. Pendek kata, meski bisa dikira kira, memberikan energi untuk memikirkan mereka saja adalah sudah sebuah kerugian immateriil bagi saya.

Logika sederhana yang diputus atau dilenakan. Kalimat paling sopan dari sebuah keadaan dimana masyarakat dibuat menjadi bertindak dan bersikap tanpa didasari logika yang benar. Kenapa masyarakatnya rela-rela saja?

Isu tersebut lebih meresahkan bagi saya dibanding siapa yang melakukannya, kenapa, atau lewat jalan apa.

Masyarakat yang dikondisikan untuk bertindak tanpa didasari logika yang benar, kok ya mau-maunya?

Jikapun media ada jin atau mengandung sulap sim salabim yang bisa menghipnotis dan menyihir manusia, bukankah seharusnya wudhu bisa membuat kita terlindungi dari dampaknya? Anda yang memegang remotenya, kenapa Anda mau diremote oleh media? Bukankah bisa, mati lampu yang berkali kali itu misalnya dianggap sebagai pesan agar menjauhi media. Bukankah bisa, kurikulum yang ruwet itu dianggap sebagai teguran bahwa anda sebagai orang tua, terlalu pasrah pada media yang bernama sekolah untuk pendidikan anak anda. Bukankah seharusnya itu tugas anda?! Bukankah itu teguran pada orangtua, karena anda termakan oleh image media, sehingga mengalihkan orientasi, dari logika menitipkan pendidikan anak anda pada ulama (orang yang berilmu), menjadi memasrahkan anak anda seharian penuh pada media yang bernama sekolah.
Segala kejadian adalah sebuah teguran.
Apa sulitnya berpikir sesederhana itu?

Maka, oleh karenanya, adalah tidak masuk akal jika sebuah media menuliskan headline bertuliskan kalimat, “Para kyai sepuh ngelurug kantor PB untuk meminta bla bla bla”.
Harusnya, headline itu dengan cepatnya ditertawakan oleh masyarakat yang menggunakan logikanya.

Bahwa jika ulama apalagi ulama sepuh yang ndawuh, maka tanfidz harus patuh. Jika beliau beliau tersebut itu adalah benar kyai sepuh, maka harusnya ndak perlu ngelurug. Tak akan pernah perlu untuk ngelurug. Kyai sepuh cuma perlu ndawuh, “Hei, tanfidz, mreneo!” Maka si tanfidz siapapun dia harus mematuhinya.

Kata-kata ‘ngelurug‘ adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk dipercaya, dan itu adalah sebuah logika yang sederhana.

Wallahu a’lam bishowab.
Eny Erawati binti Munif
24012016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s