Merayu Tuhan

“Nek ra soro, yo dudu murid jenenge. Jika tidak sampai berpayah payah melakukannya, ya bukan pencari ilmu”
::
Kenapa harus berpayah payah, kenapa harus soro? Karena sesungguhnya ilmu itu milik dan dari Tuhan.
Tidak dibagikan begitu saja pada semua orang. Item yang gratisan dan gak pake susah payah sudah banyak kok. Udara, faali tubuh yang bergerak refleks, matahari, dan lain sebagainya.
Tapi item yang berhubungan langsung dengan Nya, menjadi bagian dari nama Nya, seperti ilmu, maka harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Manusia perlu merayu sang pemilik ilmu yang sesungguhnya.

Sesungguhnya, ada banyak yang bisa dilakukan sebagai kompensasi agar tidak perlu soro soro dalam mencari ilmu. Sama sama asmaul husna, lakukan saja tindakan yang mencerminkan nama nama yang lain sebagai wirid kita sesering mungkin, asal getar keikhlasan melakukannya mampu menembus nurani. Maka, sang pemilik nama akan menoleh, dan memberi perhatian juga pada kita, pada akhirnya.

Misal, menjadi ar rahim, menjadi ar rahman, menjadi al furqon, dan sebagainya, tanpa menyaingi peran Nya sebagai Tuhan.
Menjadi ketua kelas yang adil, menjadi teman kelas yang care (rahman rahim) pada teman sekelasnya, menjadi siswa yang inovatif (pencipta), berkepribadian unggul (furqon) dan seterusnya. Itu adalah menu rayuan yang bisa diproposalkan untuk menggantikan soro dan sengsara ketika menjadi murid.

Otherwise, kalau mau menjadi orang biasa biasa saja, ya harus melalui sengsara itu, agar diberi ilmu.

Jadi, yutublah, ketik asmaul husna, pilih artis paling ganteng yang anda suka, putar lagunya, nyanyikan berulang ulang, minimal, nyanyikan saja berulang ulang, cari artinya, lalu setiap kali melakukan sesuatu, ingatlah asmaul husna dari nyanyian yang anda nyanyikan.
Ndak bakal didenda orang karena menyanyi ‘rengeng rengeng’ kan?!
Nyanyian khusyu anda yang diusahakan masuk ke nurani itu (makanya tidak harus keras keras juga), dalam rangka menghidupkan frekuensi theta di otak anda. Somehow, theta bisa naik le atas, menuju sumber frekuensi. Repetisi di theta, bisa menaikkannya kepada pemilik frekuensi. Kita saja, kalau dipanggil dengan teriakan, mungkin noleh tapi karena kaget. Tapi kalau dipanggil dengan nada lembut, berulamg ulang pula, maka kita akan lebih rela memberikan perhatian kita pada yang memanggil kita. Rayuan yang cantik bukan?! Merayu Tuhan.

Kalau tidak mau sengsara, ya rayu saja Tuhan.
enyerawati, 05022016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s