Salim

Di tempatku mengajar anak gede, salim itu semacam aturan tak tertulis. Entah, itu termasuk yang diatur atau tidak oleh kampus. Pokok sejak awal, mahasiswa masuk dan keluar kelas, biasanya pake salim.
Aku menerapkan aturan berbeda.
Aku hanya masuk jika semua anak sudah di dalam kelas. Artinya, mereka sudah dalam keadaan duduk ketika aku masuk. Artinya, tidak ada salim.
Jika ada yang terlambat, aku melirik jam. Manakala dia masuk saat aku menerangkan, biasanya, aku akan menyuruhnya duduk, ‘gak salim salim an’.
Kalau dia terlambat diatas 30 menit, aku tidak menganggapnya ada di kelas.
Orang dewasa tidak perlu dimarahi. Segala tindakannya pasti adalah karena keputusannya. Terlambat masuk kelasku lebih dari 30 menit, sama dengan tidak masuk kelasku. Sederhana.
Kenapa sekaku itu? karena aku cuma menerangkan 10-30 menit. Kelasku selalu latihan terbimbing, mayoritas begitu. Telat 30 menit adalah sama dengan tidak mendengarkanku. Maka kemungkinannya dia akan mengganggu temannya, atau, dia akan merepotkanku. Mending tidak usah masuk sekalian. Dia nyusul saja, atau ngulang semester depan, menyisan.

Seingatku, aku pernah diajari untuk berdiri di pintu saat kelas sudah dibubarkan. Mengantarkan anak keluar kelas, dan menerima salim mereka. Hal ini, tidak kulakukan juga. Aku rebyek mbenahi kabel pasti. Acara ringkes ringkes yang lumayan rumit.
Biasanya, sebagian dari kelasku akan menghampiriku, salim dan pamit pulang. Sebagian kecilnya, salim dan berterima kasih.
Aku cuma mikir satu hal.
Aku salim manakala aku ingin ilmu dari orang yang kusalimi.
Kalau tidak sedang in de mood ngalap berkah, biasanya aku ya ndak obah. *dasare arek mbegedud
Apalagi kalau sedang tidak cocok …. aku biasanya akan diam dan melihat saja dari jauh.
Bukannya sombong.
Tapi saat frekuensinya sedang tidak sama, maka aku memilih tidak salim. Daripada aku batuk, atau perutku kram. Mending jaga jarak.
Maka, manakala masyarakat kelasku pulang tidak pake salim, aku diam saja. Menganggap dia sedang tidak se frekuensi denganku.

Hari ini, one of my student, mengambil tanganku, salim dan mencium tanganku berkali kali.
“iki ngopo toh?” tanyaku. Lalu aku menanyakan apa yang mereka akan lakukan di kelas kosong sebelah kelasku. Mau syuting, katanya.
“Maam, tugasnya itu harus di kumpulkan Sabtu besok tah?”
Aaaahhh ….negosiasi rupanya smile emotikon

Aku sendiri tidak salim manakala aku sedang tidak cocok dengan pengajarku. Mangkel rasanya ketika merasa ‘terpaksa’ salim saat tidak cocok dengannya.
Jadi, cerita ini, bukan dalam rangka protes karena warga kelasku tidak semuanya salim lho ya.
Aku lebih suka seperti sekarang.
Mereka salim, kalau lagi cocok. Dan tidak salim, kalau sedang tidak cocok denganku. Itu hak mereka, seperti jika aku melakukannya pada pengajarku. smile emotikon

Salim itu, kadang, adalah juga caraku melakukan charging badanku sendiri. Gus Ali misalnya. Beliau adalah charger untuk mengatasi tingkat mbegedud otakku. FYI, beliau tidak selalu mau disalimi perempuan. Pak Do misalnya, charger untuk mengingatkan seluruh dunia, bahwa pengajar alias guru yang harus dihormati, tidak selalu hanya ia yang berusia jauh diatas kita. Meski masih muda, kalau kompeten dan memang mengajari kita, dia lah guru yang perlu disalimi. Andai boleh, aku pasti salim ke kyai Marzuki dan kyai Wi. Dua kyai itu, sesuatu banget dalam piketnya menjaga mbegedudah ini. Maka, karena ndak bisa salim, sering aku meminta metode lain untuk ngecharge. Yakni metode suwuk. Sama sama ndak pake salim, asal bisa nggelibet di sekitar duduknya kyai Man Gading, aku sudah merasa di recharge. Prof pun, cuma satu yang kerso di salimi. Yang lain tidak memahami energi transfer via salim rupanya. smile emotikon

Salim,
kegiatan sederhana, yang ‘diwajibkan’ dalam pendidikan anak anaknya oleh sebagian orang tua. Cuma salim duank. Tidak pake bayar. Tidak pake niat. Tidak pake setting. Tidak pake apa apa.
Yang biasa, ya melakukannya dengan biasa saja.
Yang tidak paham, biasanya menghindarinya.
Yang mbegedud, berada diantaranya.
Kalau cocok, dia salim. Kalau ndak cocok, dia menelikung dari acara salim. *sambil menunjuk diri sendiri.

Suatu hari nanti, harus ada penelitian yang meneliti apa efek salim terhadap otak dan perilaku pebelajar. Harus itu. Penting pake banget itu. Hipotesanya: jika salim wajib dilakukan sebelum dan sesudah belajar, maka berarti salim, entah di bagian mananya, pasti merangsang otak untuk lebih mampu menerima pembelajaran dibanding yang tidak salim.
Metodenya mbuh. Parameternya adalah prosentasi daya tangkap dengan tes memori.
Kurang baik apa coba, diriku nih …
Ide penelitian aja kukasi pada kalian.
smile emotikon

luv,
enyerawati Munif
01032016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, graphic design, islam phylosophy, Kegiatan Pembelajaran, kehidupan kampus, kelasku, LP3i, mahasiswaku, Theories of Learning. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s