Lingkungan Gaul

Lingkungan gaul menentukan isi dan warna otakmu
::
Kemarin kemarin, sebelum sekolah lagi, saya kalau sowan kyai, curhatnya soal betapa dunia ini kekurangan sosok ayah sebagai panutan.
Kurang bapak.
Walhasil. Yang perempuan menjadi aneh. Yang laki laki melambai. Sedikit sih yang melambai, tapi yang ‘ndak gentle’ atau ‘ndak laki’, jadi terlalu banyak. Sumpek, dan sebel saya.
Makin hari, parameter ke lelaki an makin salah tempat. Yang laki itu seolah olah, adalah yang berani punya multipacar, yang berani gondang gandeng anak perempuan orang kemana mana, yang berani tawuran, yang berani nggele, … ah, macam macam. Pokoknya, parameter yang absurd dan gak banget.
Yang gak laki, itu yang … gak laki. *ah, susah mengatakannya.

Lalu aku sekolah. Aku diemong dosen dosenku. Makin hebat dosenku, makin seru efek pembelajaran pemelajarannya padaku. Seringkali, aku menjadi tersipu malu karena cara pikirku. Terlalu sering, beliau beliau mengingatkanku bahwa berpikir negatif akan merusak badanku sendiri. Dan karena aku anak jaman prosedur, maka ketika dengan innocentnya aku bertanya, bagaimana sih berpikir positif itu, beliau dengan sabar mencontohkannya padaku.
Hari sekolah, adalah hari aku bertanya dan mempertanyakan seribu satu hal pada beliau beliau. Dan dengan mata yang membelalak karena terpukau, aku biasanya meloncat kegirangan, ketika diberi ilmu baru. Hal yang baru aku tahu, saat itu.
Bukannya ilmu obsolet itu tidak penting. Tapi ilmu masa depan, itu super penting. Itu gunanya sekolah bukan?!

Ada kalanya, curhatanku dibalas dengan cover buku. Serasa ditampar buku. Apa rasanya?
Uhmm … semacam disuruh mengaku bahwa aku masih terlalu sombong dengan isi otakku. Cenut cenut rasanya. Tapi bahagia. Aku kan diingatkannya di masa sekolah. Waktu dan tempat yang benar untuk membetulkan isi kepala.

Ada kalanya, beliau beliau itu cuma mengatakan satu kalimat. Halus, tapi menohok.
“Ada kalanya, kita butuh terminal. Ya?!”
Ah, aku tak bisa menceritakan maknanya atau efeknya bagiku pada Anda. Pokok intinya, saya jadi berhenti bergerak, lebih memaksa diri untuj mempelankan langkah, atau malah berhenti dan menikmati kelelahan saya, sambil tiduran. Baik lelah fisik, pun lelah kepala.

Atau seperti kapan hari, “kita itu merasa punya pikiran, tapi kenapa tidak mau mikir ya?!”
Ndelosorlah diriku.

“Kalau hati jembar, maka ya bisa mewadahi siapa saja”
Ndak tersinggungan, ndak ngamukan, ndak protesan … dan lambe saya serasa disegel lakban untuk waktu yang sangat lama.

Apa saya tidak tahu hal hal yang beliau beliau katakan?! Tahu lah.
Kyai mengatakannya sampe bosen kayaknya.
Dan mbegedudah ini tetep saja. Mbegedud.

Sekolah itu baik, dan bagus. Membaikkan dan membaguskan manusia, jika kebagian dosen yang baik juga.

Lingkungan gaulku, yang paling setia memang buku dan printer. Tidak lupa susu coklat, sedikit kopi sachet tanpa gula itu, dan yoghurt.
Teman teman sibuk merayakan tesisan, atau berenang di lautan tagihan artikel.

Menulis itu gampang, bagiku begitu. Tapi, ketika sudah mulai memakai bahasa formal, maka aku milih nggelibet di sekitar beliau beliau itu terlebih dulu. Agar masalahku, mengandung kekinian.

Aku tidak lagi ribut parameter laki laki perempuan, sekarang. Aku tidak lagi ribut memikirkan bagaimana perpolitikkan. Ura nyampe energinya.

Aku lebih memikirkan bagaimana mendidik anak manusia, sekarang. Dan mendidik itu, kadang dengan caraku, yang prosedural banget itu, kadang dengan cara beliau beliau itu. Satu dua kalimat, tapi mampu merontokkan bangunan egoku yang sudah menjadi pencakar langit itu.
Egoku sudah menjadi gedung pencakar langit.
Rontok karena kalimat sederhana.
Yang biasanya, diucapkan oleh para kyai, dan dihajarkan dengan sangat infah di kitab al Hikam.

Lingkungan gaul, bukan cuma menentukan bentuk dan warna struktur bangunan ego anak manusia, tapi juga isi, arah laju pikirannya.

Hati hati dengan lingkungan gaul Anda.
Jika bahaya, atau beresiko tinggi ‘ngerusuhi’ hati, maka sekolahlah. Cari sekolah yang bener. Cari lingkungan yang akan menyehatkan jiwa dan kemanusiaan Anda.

Karena setiap kata, tindakan dan pikiran kita, adalah doa kita, pada Tuhan sang Pencipta alam raya. One day, kita akan harus mempertanggung jawabkannya.

Kalau tidak sekolah,
Ya mondoklah.

Kyai yang bener itu tidak pernah berkata kata kasar. Pesennya gus Mus kan begitu. Jangan panggil kyai orang yang berkata kasar dan sikapnya tidak menunjukkan sikap seorang penyayang.

Intinya, cari guru yang bener. Pilihlah lingkungan gaul yang bener.
Supaya isi otak kita pun, menjadi bener.

Cerita cinta dari penjaga kelas.
Eny Erawati binti Munif. 15042016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s