Piket sebagai Pendidik

“Aku curiga, bahwa jangan jangan dia tidak tahu bahwa yang dia lakukan itu tidak benar untuk dilakukan. Terutama karena dia adalah dia”
::
Topik yang beginian ini, memang, sangat beresiko melelahkan hati.
ini lah titik dimana aku merasa menjadi pendidik itu tidak mudah.
bankir misalnya, bisa dengan mudah memisahkan perilakunya sebagai dirinya, dan sikapnya sebagai seorang bankir.
pedagang misalnya, bisa didelok welo welo, mana yang sikap pedagang, dan mana yang sedang menjadi dirinya sendiri.
polisi, lebih mudah lagi.
jaksa, apalagi.
di profesi lain, kehidupan pribadi dan profesi, bisa dipisah dengan mudah, bahkan bisa dipakai dan ditanggalkan secepat ia memakai atau melepas seragamnya. Mudah saja.
Namun tidak demikian halnya dengan profesi seorang pendidik.

Pendidik nyaris tak punya yang namanya kehidupan pribadi.
Seluruh isi hati dan kepalanya, bahkan termasuk mulut dan niat niat tersembunyinya, semuanya saja, adalah satu paket yang menentukan kualitas pendidikan, yang dibangun dan dinilai dari filosofinya dalam mendidik.

Termasuk mulut dan niat niat tersembunyinya.

Terutama, yang nawaitunya, tidak ingin diketahui orang.
Pendidik, adalah kepanjangan tangan al Ilmu, salah satu sifat Tuhan yang dipinjamkan pada manusia.
Karena SK nya dari ‘atas’, maka, penilaian pun sebenarnya adalah dari atas juga.
Mekanismenya saja yang bisa di’akali’ oleh manusia.
Saya misalnya, memakai mekanisme kuesioner dengan menggunakan likert. Atau kuesioner dengan menggunakan multiple choice tapi pilihannya menukik tajam. Bisa juga dengan mendengarkan cerita teman yang sedang nostalgia. Rekam saja bagaimana mereka menilai kita. Atau, diam diam, amati blogstat. Analisis blogstat dari judul postingan kita. Kalimat yang memang mengundang baper, berapa tinggi kunjungannya? Masih ada banyak lagi mekanisme akal akalan untuk mengira ngira, berapa sih nilai kita nanti, dimata Tuhan.
Maka, daripada aku sibuk mengingat ingat sikapku. Mana yang branding, dan mana yang asli. Aku menampilkan diriku apa adanya.
Berpotensi ditabrak orang kanan dan kiri sih, memang. But that’s life.
Manakala sesi baper baperan itu sedang berlangsung itu lah, kita bisa menilai diri sendiri, sesungguhnya, apa kita selalu paham/tahu, bahwa yang kita lakukan itu tidak benar?

Termasuk mulut dan niat niat tersembunyinya …

Jika Anda sedang piket menjadi pendidik, seperti saya, lebih hati hati yuk.

enyerawati munif, 26042016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, kehidupan kampus dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s