Fotografer itu Makhluk Apa?

image

Fotografer itu makhluk apa?
*credit photo untuk fotografernya

Saya sedih melihat gambar ini.
Dalam foto, terdapat sederet fotografer, memotret apapun lah dalam kehidupan keseharian, ditonton anak anak yang bukannya berpose di depan kamera, tapi sibuk menonton, mungkin sambil.bertanya diantara mereka.
‘Mas mas itu ngapain ya?’
‘Motret lah’
‘Kok kameranya besar gitu, kan hape aja bisa? Trus yang difoto apa ya? Kok gayanya sampe segitunya’
Atau entah, perbincangan si anak anak itu apa.
Yang pasti, jumlah anaknya ada banyak. Bagi saya, itu berarti pose si ‘fotografer’ dalam gambar itu berpose cukup lama di daerah itu.
Lalu kenapa gambar ini membuat saya sedih?
Fotografer itu apa toh?
Semacam artis sinetron? Semacam presiden? Semacam guru? Semacam penonton sepak bola dengan kostum teraneh? …. fotografer itu apa?
Bisa jadi, hare gene, orang berpikir praktis: saya dan android saya juga motret kok. Jadi juga kok. Dan ndak segitunya ketika motret.
Saya sedih karena di foto ini, ‘fotografer’ yang difoto itu masih menjadi orang yang asing dan ditonton nak kanak children. Fotografer yang di foto itu, masih elitis. Tidak membumi dengan lingkungan tempatnya memotret. Fotografer yang difoto di gambar itu, masih artis. Menarik perhatian orang. Fotografer di gambar itu, tidak ‘mewakili mata masyarakat’, tidak juga tampak melakukan kegiatannya motret demi menjawab keingintahuan masyarakat, tidak nampak memotret hal ‘baru’ untuk membangunkan kesadaran masyarakat, pokoknya, tidak nampak akan menambah literasi visual masyakarat yang nantinya akan menonton fotonya.
Sedih.
Jika ‘fotografer’ masih se artis itu, –seperti terekam dalam foto ini– maka hampir pasti, foto buatan ‘fotografer’ itu juga akan berasa ‘plastik’.
Jauh dari a representation of fact, a depiction of reality, atau apapun yang namanya filosofi fotografi.
Fotografi rasa plastik.
Haree gene.
Omaigad.

Bahkan yang foto pake android lebih jujur dan lebih mewakili realitas, tidak berasa plastik.
Ngunu tah rek?
Disitulah saya merasa lebih sedih lagi.

Representation of reality
A depiction of reality
Kalau bukan filosofi yang begini, lalu, filosofi fotografi hare gene itu apa?

eny erawati, 23052016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s