Sinten Ingkang Piket Jaga Umat Yi?

Curhat pada kyai Masduqie dan gus Ahmad Suyuti Kacuk.
::
Yi, sejak jaman internet mulai merasuki kalbu, sejak saya mulai ngaji al Hikam via radio sampai sedino ping telu, bahkan sampai ngaji saya secanggih berusaha nguber nyatet kecepatan mbah Sahal ngaos, urusan saya dengan dunia maya adalah tentang ngaji.

Lalu mbah Sahal, yang juadug dan saya tidak bisa lulus ngaji dengan beliau, tetiba meninggalkan umat yang hobi pethakilan dan cengengesan seperti saya. Lalu njenengan ikut melangit, rapat kalean gus Dur, meninggalkan umat yg butuh suply suwuk dan konstan seperti saya. Terakhir, keributan yang dipolitisir dan bikin telinga yg mung ngerungokke thok saja ndak enak, membuat suasana ngaji jadi aneh dan makin tidak mendinginkan busi hati.
Umat kayak saya, makin ngamukan.
Merasa ura ketunggon.
Merasa ura tau dijak guyon.
Merasa ura diajak mikir kritis dengan light hearted atau apalah bahasa indonesianya sak madyane kuwi.
Umat kayak saya makin ngamukan, karena ngaos kitab via dunia maya jadi membingungkan.
Karena setahu saya, warisan pembiasaan kyai seperti njenengan, ngaji pasan itu ya menghabiskan kitab serius atau kitab dasar, dalam kecepatan seperlunya, harus tamat kurang dari sebulan.
Mbah Sahal niku ngalim yang juadhug Yi. Saya ndak lulus ngaji beliau. Kecepatannya membuat saya pingsan. Saya ini yang kelas ‘bundel bundel’ nya gus Mus gitu aja, Yi. Santai, super serius, tapi light hearted. Catetan jadi, ketawa iya, mikir pun jalan. Ngaji lah, intinya.

Entah kenapa sekarang saya banyak bingungnya dari ngajinya. Duga saya karena saya tidak merasa ketunggon kyai. Tidak ada yang melebarkan sayap melindungi udel ummat mbegedudah seperti saya saya ini. Dunia ini berisik, bawel, dan cenderung terlalu arogan dalam menilai kecantikman dirinya. Muwegelke.
Dan tidak ketunggon kyai itu, menggalaukan hati.
Tidak enak hidup di dunia yang berisik tanpa ketunggon kyai itu.
Kyai yang ada, yang piket jaga kota pada sibuk. Umatnya do tarungan di sana dan di situ, di kota tetangga. Pertarungan yang hanya bisa diatasi oleh kyai yang dulunya santri kesayangan njenengan itu.
Akibatnya, umat kayak saya mboten kebagian perhatian. Saya kehilangan tempat berlatih melipat udel. Sementara ustadz yang muda muda, harus nunggoni ibu ibu ngaji. Atau njagani radio di masjid jami.
Piket mereka bukan piket melipet udel mbegedudah seperti saya saya ini.
Jadi, Yi.
Tolong dirapatkan sinten yang harus diutus piket untuk kembali njagai kami kami ini.
Yang memiliki lebaran sayap cukup untuk mendinginkan hati, menggerakkan otak, dan menjernihkan tampilan nurani.
Njenengan dulu juga kemana mana, tapi selalu ada buat kami kan?! Njenengan dulu membahas apa saja, padahal rasanya tak pernah jauh jauh dari jaga kota ini. Yang pasti, meski tingkahnya umat itu selalu always super ajaib, karena kebodohannya, njenengan selalu bisa dengan ringannya membuat kami semua memahami masalahnya. Gak pake muring muring, apalagi sampai perlu pentungan segala.
Saya dulu sering rasan rasan, darimana sih supply infonya poro kyai ituh? Njenengan selalu tahu, lebih dulu, dan bisa memberi kami semacam warning, jika kecerdasan kami sampai ke situ.
Kyai yang begitu, kyai yang piket jaga kota yang seperti itu, sekarang ini sinten Yi?

Saya tidak berharap kyai yang sakti.
Karena jika kyai diberi kesaktian, berarti dia ada di lingkungan umat yang masih jahiliyah, belum memiliki cukup kecerdasan.
Saya berharap kyai yang pinter sundul langit, sabar gak kira kira, ngademi ati umat yg mbegedud dan sering keprucut jumawa, bisa membawa umat tertawa dan berpikir cukup cerdas utk tidak terpengaruhi berisiknya suara dunia. Dunia itu bawel, dan berisik. Cantiknya palsu pula.
Umat butuh kyai yang ganteng Yi.
Para pemangku piket jaga kota, atau piket jaga umat lah, yang ganteng gitu.
Sinten Yi?

Saya tahu diri, njenengan ndak mungkin menemui saya dan menjawab ini di mimpi. Frekuensi saya agak gak jelas. Karena kebanyakan tidur dan kurang kopi. Umat kakean turu, biasanya ra ditoleh kyai. šŸ˜¦
Njenengan jawab saja ke poro kyai yang piket jaga kota atau jaga propinsi saat ini nggeh. Pasti satu frekuensi.
Soalnya, masalah kekinian saat ini, bahkan penjaga pulau jawa pun, sepertinya sedang kosong kursi. Itu laut sampai berani ngamuk ngamuk berhari hari, dengan nada tinggi.
Laut aja gak duwe wedi.
Takutnya itu para pasak bumi bertingkah ketularan laut, hanya karena ndak mau dibilang ketinggalan trend.
So, rapat untuk berbagi tugas jaga itu, perlu sekali.

Yi, mpun supe, saya ngajinya pake internet nggeh.
Hehehe …

Gus Ali bikin tipi, kyai Mutawakil bikin aplikasi. Tapi, lha itu, pengisi konten nya itu lho Yi. Yang masih nganu.

Ah, njenengan rapatken kemawon lah.
Wong dari dulu, njenengan tahu lebih dulu dari kami kami.
Jadi, saya tahu bahwa sesungguhnya curhat ini percuma karena njenengan sudah memahami.
Tapi saya kan umat yg ndak ngerti kalau ndak ada tulisnya Yi. Makanya saya nulis ini.

Dari dulu, saya mbatin duank pun, njenengan sudah langsung njawabi.
Sudah ah.
Pokoknya saya yakin. Ngaten mawon.

Mpun supe nggeh Yi, ngaji saya pake internet. šŸ™‚
Pareng Yi.

Assalamu alaikum …
eny erawati binti munif

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s