Belajar Sambil Momong Saya

Umat turuan.
Jam tidur saya memang kebanyakan > mari kita salahkan cystic di kaki.
Tapi seumur umur, baru ini ramadhan dimana kegiatan saya rasa rasanya mostly adalah tidur.
Dulu dulu sih ngaji. Teruuuus saja streamingan ngaji.
Kitab kecil kecil, tapi pokoke ngaji. Dan streamingan. 🙂

Kemarin, dari pagi sudah having fun.
Ngaji kitab dukhon dengan mas gus Thon.
Lalu jalan jalan dengan pacar tercinta; kamera.
Mencari matahari.
Lalu tidur.
Ngaji lagi. Sebentar. Sudah ashar, sudah wayahnya ngeliwet. Yu ndak masuk. Maka persediaan ransum anti badai itu pun difungsikan.
Ke masjid. Dan saya tahu, pulang masjid pasti mata saya lengket. Ngantuk berat.
Tapi godaan pengumumannya mas Deni di kapus membuat saya penasaran.
Maka nontonlah saya.
“Pokok ngantuk, ya pulang” nawaitunya begitu.
Secara, biasanya film dokumenter itu tidak memenuhi standar selera dokumenter saya. Anak IKJ sudah dicekoki dokumenter keren sejak hari pertama masuk kan?!
Selain the wall, film lain seperti masakan tanpa garam.
Tapi ndilalah, film Pruitt Igoe itu saya suka suaranya. Dan bisa menerima gambarnya. Frammingnya dokumenter kontemporer banget. Bukan dokumenter klasik. Dan itu, selera saya.
Maka, saya menunggui sampai film habis.
Otak saya sudah penuh komentar, dilihat dari keterkaitannya dengan fotografi.
Secara fotografi, film itu menceritakan jauh lebih banyak hal dari yg dibahas pemateri.
Frame by frame nya.
Ruang ruang kosong seperti kata prof, berkali kali muncul di film itu. Pos-Neg space kalo di arsitektur, memang selalu jadi alat utk kajian yang kritis. Dan film itu, menampilkannya dengan apik.
Saya memelek melekkan diri utk update info bagi wacana arsitekturial saya yang penuh dengan Frank Lyoid Wright, Francis Bacon, dan Bauhauss. Perlu diupdate lah.
Meski tidak terlalu pas updatenya.
Pruitt Igoe dibuat tahun 1949, dokumenter kontemporer ditegakkan tahun 1953. Pasti ada hubungan diantara keduanya. Dan saya melihat, memang stylenya dokumenter kontemporer banget.
Andai, waktu itu fotografer tidak memiliki daya estetik bermisi perubahan, menasbihkannya dengan nama dokumenter kontemporer yang artinya ‘saya hanya motret yang menurut saya penting’ maka film Pruitt Igoe tidak akan sejujur itu, tidak akan seindah itu dalam konteks dokumenter.
Dan masyarakat kekinian tidak akan dapat belajar apa apa jika fotonya tidak beraliran dokumenter kontemporer.

Ini waktunya saya mulai sedih.
Ingat percobaan saya memakai foto prof Djoko?
Saya membaca para jempolersnya. Asumsinya, jempolers adalah viewers, siapa saja.

Kesimpulan sementara:
Viewers lebih suka foto straight forward yang bloko sutho.
Menghargai dokumentari event tapi tidak mau kerepotan membaca foto yang bercerita.
Foto indah indahan, disukai oleh viewers yang berbeda profile, bila dibanding foto yang mengandung cerita.
Kebahagiaan saya cuma satu.
Foto still alias tidak mengandung gerakan, kurang disukai.
Untunglah …

Bai de wai,
Apa rasanya disiksa mahasiwanya prof? Hehe
🤗

Saya cuma merampok 5-15 menit kok. Tapi spesifik.
I know what i am after. Saya tahu apa yang saya kejar atau apa yang saya cari. Dan kapan waktunya. 🙂

Terima kasih mau menemani.
Belajar itu, sambil momong nggeh prof?!
Momong saya …
Dan kamera saya.

Eny Erawati Munif, 14062016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s