Seperti Saat Sowan ke Ndalem Kyai

​Seperti saat aku sowan ke ndalem kyai
Seperti saat sowan ke ndalem kyai

Aku duduk melantai, meluruskan kaki

Kadang aku memulai kata dengan basa basi

Tapi biasanya, aku sowan demi memuaskan ngomel yang mulai melelahkan diriku sendiri
Seperti saat sowan ke ndalem kyai

Muka yang tadinya mecucu atau tegang tak enak dipandangi

Sejam kemudian sudah mencair karena gelak tawa yang membahanakan bumi

Wajahpun relaks kembali
Seperti saat sowan ke ndalem kyai

Sejam saja pun sudah termasuk kebacut; yang namanya waktu itu harus dibagi bagi

Jangan karena merasa penting, lalu kita melama lamakan diri
Seperti saat sowan ke ndalem kyai

Aku pulang setelah dadaku tak lagi sepanas yang tadi

Aku pamit setelah puas tertawa, menertawakan cerita hidup yang melegakan hati

Aku keluar setelah rasa hatiku tak lagi sedahsyat yang sebelum tadi
Seperti saat sowan ke ndalem kyai

Ada cerita yang menohok sekali

Diceritakan untuk menegurku yang audially sensitive ini

Juga hadiah yang agak mengagetkan karena tak kusangka sama sekali
Dan seperti saat sowan ke ndalem kyai
Membagi cerita apa yang kupelajari dari dhawuhnya kyai, bagiku adalah seperti membayar cicil kewajiban bagi para pemegang ilmu sejati
Eny Erawati

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s