Bincang Buku: Gert Oostindie

catatan-fotografer-enyerawati-gert-oostindie-14092016

Belajar mendengarkan Kyai, Belanda, dan cerita prof Gert Oostindie
::
Para mbah kyai, tak pernah memakai bahasa langsung dalam menegur atau menasehati. Selalu memakai bahasa halus yang untuk memahaminya, harus menghidupkan hati.
Dari cerita prof Gert Oostindie, harusnya, kita bisa memahami satu hal. Bahwa Belanda, juga tidak pernah memakai bahasa langsung untuk mengatakan sesuatu apalagi menolak sesuatu. Sampai saat ini, selalu memakai bahasa ‘halus’ atau bahasa berbalut.
Dan, dari prof Gert pula, harusnya kita segera paham, mengapa presiden Jokowi memilih tidak membahas topik yang beliau tanyakan. Sebagai orang sebangsa, sesama jawa pula, harusnya, kita segera paham apa maksud sesungguhnya.

Jadi, sebenarnya, mulai kapan kita bangsa Indonesia yang jawa ini jadi berbahasa langsungan, kasar, dan bahkan menjadi tukang cerca?
siapa yang mengajari?

Manusia yang hidup di Indonesia, dari jaman dulu, tak pernah mengajari atau mencontohkan kita untuk menjadi manusia yang begitu mahir mencerca.

enyerawati, 20092016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s