Instructional Learning

​Aplikasi Teori Pendidikan – Instructional Learning

[Catatan bagi para pendidik]
Semoga bisa menjadi ilmu, Bismillah.
Instructional Learning, bertujuan to close the gap in the performance yang dikarenakan kurangnya pengetahuan atau keterampilan (kondisi ‘dont know how’). *contoh cara mengutip yang payah dan salah, meski kontennya benar

Maka, prasyarat terselenggaranya instructional learning adalah HARUS ada alat belajar memadai, dan HARUS ada motivasi. Peserta didik tidak boleh kekurangan dua hal ini. Karena mengatasi masalah belajar karena kekurangan alat, apalagi karena kekurangan motivasi, adalah sama sekali TIDAK BISA memakai metode-metode pada instructional learning. Harus memakai cara lain. 

Dan ranah yang saya ajarkan, tidak bisa memakai paradigma selain instructional learning: fotografi dan ke-dkv-an.
Saya bisa jadi memakai teknik mendongeng, tapi peserta pendengar dongeng, harus pegang alat dan siap praktek terbimbing. Pembuktian (yang belum tentu assessment) harus bisa dilakukan kapan saja diantara sesi saya mendongeng.
Saya bisa jadi memakai teknik mendongeng full. Tapi segera setelah saya tutup mulut, sesi harus ganti langsung ke sesi praktek. Dalam rangka ‘mencatat dan mengingat’ (to record and review) apa yang saya katakan. 
Bisa jadi juga saya langsung ambil alat gambar berteknologi dan demo. Lalu menjelaskan apa kenapa bagaimana membaca pesan apa yang baru saya buat. Either itu prosedurnya, atau semiotikanya.
Atau saya memakai teknik navigasi, lalu angkat sauh bersama sama, dan menggiring serentak menjauhi pantai. Lalu saya terbang ke ujung pulau seberang, menunggu di seberang sana. 

Atau saya cuma perlu bilang pada mereka, ‘saya tunggu di pelabuhan ya’
Setoran alias learning outcome memang tagihan yang menyebalkan, tapi itulah pendapatan ‘tangkapan’ mereka selama berlayar. 

Keputusan memberi penjelasan atau menambah pengetahuan; atau melatihkan keterampilan baru, sepenuhnya tergantung dari cerita yang mereka bawa pulang dari pelayaran mereka.
Style style mengajar yang bisa disesuaikan dengan jaman. Pokok paradigmanya satu dan masih sama, to close the gap in the performance yang dikarenakan lack of knowledge or skill

Estetik di kelas saya, adalah urusan belakang. 

Saya mengurusi masa masa perkembangan estetiknya, bukan SEKEDAR atau HANYA pada hasilnya.

Sekali lagi, paradigmanya Instructional learning.Ranah yang saya pegang, tidak bisa memakai yang lain.


Meaningful
apalagi nilai tambah di paradigma instructional bukanlah pada bagaimana menambahkan nilai ekonomis pada hasilnya. Instructional tidak mengurusi HANYA hasilnya.

Meaningfullness dan added value, pada instructional, justru HARUS diusahakan pada PROSESnya.

Tidak bisa –tepatnya, tidak boleh– dilepas justru karena masalahnya adalah lack of knowledge or skill.

Harus guided instructions, or else, mereka akan makin nyasar. 
Menemani, bukan menjaga 

Guided instructions

*betapa sekedar terjemahan dan maknani itu bisa sangat jauh berbeda. Makanya jangan pathok bangkrong percaya gugel translate talah.
Sekian catatan mengajar yang saya tulis bagi pengajar, eh, pendidik
Eny Erawati, 4 Muharram 1438H, 05102016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s