Pendidik Mahir di Era Big Data

​Mahir

Aku bisa mahir menceritakan masa lalu

Aku bisa mahir mencerita ulang aneka buku

Aku bisa mahir menjelaskan sesuatu

Bahkan,

Aku bisa mahir menganalisis perasaanmu

Dari foto buatanmu
Satu hal yang dulu suka kulatihkan pada diriku

Lalu kuhentikan karena membuatku lebih aneh dari manusia sesamaku

Memprediksi masa yang belum terlahirkan untukmu dan untukku
Memprediksi masa depan membuatku sulit sumeleh

Tak hendak bisa menerima apapun yang tak masuk akal 

Karena sangat percaya bahwa semua ini, segala hal di dunia, ada rumusnya

Dan rumusnya bisa dibaca oleh manusia
Terlalu percaya bahwa rumus kehidupan, bisa dibaca manusia

(Jika mahir, seandainya saja; tidakkah kemudian bersikap sok bisa mengalahkan Tuhan?!)
Untung waktu itu aku bisa menghentikannya

Aku pulang, ke bawah ketiak kedua orang tua

Melipat semua fame and famous di Jakarta

Aku pulang demi hakekat untuk menjadi manusia
Menjadi manusia adalah tentang menjadi hamba

Tak bisa menentukan nasib siapapun meski dalam tanggung jawabnya

Hanya berusaha menjaga, tak boleh memaksa apa apa pada sesiapa

Karena manusia, sesama manusianya, punya garis nasibnya yang bisa jadi memang harus dilaluinya
Guruku sering berkata, orang tua itu kadang sombong juga, mengaku bisa menjaga anaknya. Padahal, wong atase nyamuk ae yo isih kecolongan

::
Era big data.

Manusia mengumpul data, bertukar data, menganalisa dari masing masing sudut pandangnya.

Aku menuliskan apapun pikir dan rasa, data yang paling sederhana, dari tahun berapa

Aku telah menjadi manusia big data, sejak masuk ke dunia maya
Dari sejak itu, tak sedikit yang mengolok dan menghina, ‘seperti tak punya teman manusia saja’

Aku terus saja

Bukan kali pertama orang tak paham prediksiku, dan sudah waktunya aku diam saja pada reaksi mereka

Ini era big data, 

Dan dunia akan makin penuh dengan data, jika kita tak melatih diri untuk mahir berselancar diatasnya
Menjadi manusia mahir di era big data, karakteristiknya berbeda

Kalau sekarang saja, yang katanya era kompetensi -pembicaraan semua orang, aku bisa berbeda pandang karena literaturku berbeda dengan literatur mereka

Maka jika aku bicara era big data, pasti jadi debat kuda belaka
[Sebagai soko guru: prof Djoko memang mengagumkan. Dan manakala beliau diam, bumi yang kupijak, rasanya menjurang terlalu dalam]

::

Orang tua kadang sombong berkata bisa menjaga anaknya. Padahal dari nyamukpun, orang tua masih sering kecolongan, begitu saja, di depan mata.
Jika jadi guru, pengajar, pendidik, apapun nama sesiapa yang bertugas menjaga bagaimana otak anak bertumbuh dan bekerja

Di era big data,

Masih mau sombong berkata ‘bisa menjaga’ ??
Lepaskan saja, 

Biarkan tangan Tuhan yang menjaga mereka

Jika jatuh, dengkulnya luka, kau hanya perlu memberinya antibiotik, begitu saja

Jika dehidrasi, hampir pingsan karena kekurangan gula, kau hanya perlu menyuguhkan secangkir jahe atau coklat panas, dan menemani mereka
Seperti cara para prof di kafe pustaka 

(Para? Iya, karena ada banyak prof disana)

::
Mahir di era big data

Jika anda memang pendidik, maka rubahlah cara anda memandang dunia

Anda harus lebih dulu mahir menyelancari dunia

Lalu memahirkan diri dalam menemani anak didik anda 

Itu soal paradigma yang harus wujud dalam nyata, bukan soal kata kata belaka
Pendidik era big data, paradigmanya bukan lagi menjaga

Tapi menemani mereka

Mampukan diri anda, bagaimanapun caranya
Saya tidak memprediksi, apalagi mengatur hidup anda

Saya hanya berkata, ini adalah era big data

Tahun dan masa yang sudah berbeda dari yang anda kira atau rasa
Keputusan ‘tak mau mengubah paradigma’ sepenuhnya hak anda

Jangan kaget saja, jika anda dimuseumkan oleh anak didik anda 
Yang masih belum mahir menuliskan corak pikirnya dalam melihat dunia

Eny Erawati, 

4 Muharram 1438H, 05102016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s