Serat Rasa tentang Puncak Bahagia

​Meleleh memandang pada punggung matahari yang berwarna indah dan berbau harum. (enyerawati, 24102016)

Sang bapak baru saja memasuki pintu, bertemu seseorang di sofa tamu, berbicara menyapa sang tamu yang cantik berkulit putih susu
Si anak melihat sang bapak di ruang tamu, seketika melompat bahagia dan berseru, menyatakan bahwa dia rindu; aku rindu aku rindu aku rindu
Dengan tenang sang bapak menjawab luapan rasa itu, “ya, ya, ya, ya …”, ia menanggapi dengan suara berat dan sambil lalu
Si anak tampak puas dengan jawaban itu, meski sambil lalu dan tanpa ekspresi berlebih seperti drama di tipi tipi itu
Bahagia itu sederhana, begitulah inti ceritanya, bahwa si anak jadi terus tersenyum mengingat respon bapaknya, dan sepertinya rasa bahagia yang dibutuhkannya cuma sedikit respon yang ramah bagi kepekaan telinganya
Si anak dan senyumannya, pada jawaban sederhana yang membahagiakannya
Ah, dunia memang sulit dipahami dengan akal biasa

Terkadang, kita harus melihat dunia, dengan memakai rasa saja, gak perlu dipikir memakai logika
Senyum bahagia si anak pada respon sang bapak

Mungkin, matahari pun tak bisa memahaminya
Serat rasa tentang puncak bahagia 

enyerawati, 25102016

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s