Hermeneutik

Kalimatku ini jelas, bahasanya juga biasa. Namun maknanya amat sangat dalam.
Secara semiotik, kalimat ini cuma berarti atau menunjukkan bahwa ada 2 kitab dalam satu kegiatan. Kegiatan: bernama ngaji. Dua kitab: bernama Bustanul Arifin dan Tanbihul Ghofilin. Dengan satu subyek perbincangan utama -jenis kegiatan juga- bernama nggelibet. Makna kalimat: subyek –yang adalah kegiatan utama– memberi muatan emosi tertentu berupa romantisme pada obyek yakni kegiatan kedua. 

Mbulet? 

Ura. Kalimatnya kan sudah jelas.
Sekarang hermeneutik.

The whole kalimat itu, secara implisit menggambarkan rasa suka (kalau tidak mau disebut bahagia), yang sekaligus menohok. 
Kitab utama: Tanbihul Ghofilin, bermakna kitab pengingat bagi yang lupa. Ini letak menohoknya. Lapis pertama dari menohok itu adalah, ada kegiatan lain dari mengaji kitab pengingat itu, yang justru menjadi pengingat meski tanpa label. 
Nggelibet sama sekali tidak sama dengan mengaji. Tidak setara dan tidak senilai. Secara konotatif saja yang satu bernilai positif, satunya bernilai ngalem. Namun ternyata, kandungan implisit value nya bisa setara. Kata ‘semacam’ menegaskan kesetaraan implisit value dari ngaji dan nggelibet.
Hal paling tajam dari kalimat ini adalah justru yang diwakilkan pada obyek bernama ‘kitab Bustanul Arifin’. Diajarkan oleh kyai Masduqie, yang artinya harus berada di sekitar masjid Jami saat hari Senin. Kegiatan yang tidak lagi diampu oleh kyai Masduqie since beliau sudah pulang. Kitab itu tidak ada di toko kitab. Kyai sendiri yang tumbas, membawanya dari negeri asal pencetakannya. Saya harus memfotokopinya, supaya bisa ngaji nyatet diatas dampar. Dan itu, pake koneksi dengan orang ndalem, plus harus seijin kyai. Ijazah ngaji yang langsung dari kyai. 
Kyai Gading ndawuhnya jelas: ngaji itu, pake kitab.

Nggelibet di prof, adalah juga tentang buku. Kalimat beliau, seringkali mengandung rujukan buku. Yang melelahkan untuk membacanya sendiri. Mending nguping sarinya saja, dengan nggelibet pada beliau.
Sebuah kitab yang berisi banyak sekali pengingat bagi yang lupa, pasti memuat banyak sekali catatan pinggir. Seperti halnya catatanku ketika mengajar, yang kupampang begitu saja di FB ini. Ketika catatan catatan pinggir itu dibukukan, jadilah sekumpulan point point dari kisah riil yang sering luput atau diremehkan pertimbangan logika biasa. Pointers yang dibukukan, menjadi buku yang berisi kumpulan hal hal riil ke-bodoh-an karena lupa. Kitab utama: pengingat. Kumpulan catatan pinggirnya, menjadi kitab yang bernama Bustan Arifin.
Nggelibet disetarakan dengan ngaji. Dan bukan ngaji kitab utama, namun malah ngaji kitab kumpulan dari hal hal bodoh yang riil terjadi. 
Semiotik dan hermeneutik, bedanya, jauh bukan?!

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s