Jangan Meguru

cerita tadz Faris hari ini …

Terkait sikap terhadap guru secara khusus, al-Imam al-Sukri dalam Hidayatul Murid mengatakan:

أنه يجب على المريد أن يذكر دائما, أنه بين يدي شيخه في كل نفس من أنفاسه.

Wajib bagi seorang murid untuk selalu mengingat bahwa dia berada di depan gurunya dalam setiap tarikan nafasnya.

::
Dalam hal maknani, aku memang os-tos-mas-tis menafsirkannya untuk hal yang jauh lebih luas, oleh karenanya memiliki prasyarat yang kemudian juga meluas. Karena sebagai murid, kita telah dan akan diajari banyak orang. Baik formal, maupun non formal. Dan tidak semua orang yang mengajari itu, kita anggap sebagai guru, apalagi yang berkelas guru dalam konteks kalimat diatas itu.

Kita menyebut guru pada seseorang yang kita pilih. Kaitan ruhani guru-murid itu akan terbentuk manakala kita yang memilihnya. Ini syarat utama.

Kadang kita mendapat guru yang bukan pilihan kita, guru di sekolah misalnya. Dimana kita sama sekali tidak punya daya pilih. Pada orang yang mengajari kita ini, adalah wajib bagi murid untuk sopan. Titik. Gak pake alasan.

Di pondok misalnya, ada aba atau mbah kyai, yang biasanya menjadi guru kita (faktor utama seseorang dalam memilih pondok). Dan ada banyak ustadz-ustadzi yang menjadi pengajar kita (tidak bisa dipilih oleh santri).

Pokoknya Anda paham, saja. Bahwa ada guru yang tidak sekedar pengajar, dan ada guru yang sekedar pengajar. Dalam percakapan bahasa arab, keduanya sama sama disebut ustadz.

Bahwa ada prasyarat bagi seseorang untuk dianggap sebagai guru oleh seseorang, yang padanya ia akan mengikatkan diri di setiap tarikan nafasnya. Diantara prasyarat itu adalah bahwa si murid, harus memilih gurunya dengan hati-hati dan penuh pertimbangan nurani (bukan akal/logika).
And vice versa.

Ini sebabnya, tidak semua murid diterima menjadi murid oleh seorang guru. Guru pun harus mendengarkan nurani kala menerima seseorang untuk menjadi muridnya. Dia harus ‘menyelesaikan urusan administrasi dengan Tuhan’ soal Surat Ketetapan menjadi guru bagi si fulan. Dan ini bukan urusan gampang. Makin besar modal si fulan, makin berat hati si guru dalam menerimanya sebagai murid, kecuali memang ia yakin telah ‘mendapatkan mandat’ itu. Yang dimaksud modal disini sama sekali bukan soal duid dan hal hal keduniaan semacam itu.

Saya cukup terkejut sebenarnya, bahwa di keilmuan dunia, alias di sekolah dan di kampus, saya menemukan guru yang guru bagi saya. Ada yang menerima saya dengan cinta. Dan ada yang sampai detik ini, belum menerima saya sepenuhnya untuk menjadi muridnya. (menerima salim saya saja pun, ndak kerso)
Dan ini sepenuhnya tentang bahasa hati.

Namun jangan menilai salim sebagai ukuran ya.
Saya sendiri tidak selalu salim, meski saya sangat cocok dengan guru saya. Salim tidak selalu menjadi tolok ukur kualitas kaitan ruhani guru-murid.
Ini sebabnya saya tidak terlalu menilai aneh aneh pada murid saya yang keluar ruangan kelas saya tanpa salim pada saya. Dunia itu reflektif. as simple as that.

Di keilmuan dunia, saya menemukan guru yang guru. Dan ini sesungguhnya agak mengejutkan bagi saya. And yet, sekaligus menjadi ukuran keridhoan Rabbuna, pada pilihan saya untuk sekolah. Makin banyak saya nemu orang yang menjadi guru saya, berarti saya di ridhoi untuk sekolah di situ.

Wajib bagi si murid untuk memilih gurunya dengan hati hati. Yakni memilih guru yang tidak dendaman, dan tidak mangkelan.
Karena sekali seorang guru membatin bahwa ia tidak ridho pada ilmu muridnya, maka doa si guru akan lebih makbul daripada doa si murid. Seluruh masa dan usaha si murid dalam mencari ilmu akan lenyap dalam sekejab.

Jangan meguru (memillihnya menjadi guru), seseorang yang pendendam dan mudah membatinkan hal hal yang dapat menghalangi ridho Tuhan atas ilmu.

eny erawati Munif, 23012017

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, enyerawati, filosofi islam, filsafat islam, ilmu melihat, islam, islam phylosophy, Theories of Learning. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s