Pesan Nurani

16804466_10154206575946302_2375636575990852309_o
Kepada bapak ibu, yang menitipkan anak anak pada kami, agar mereka bisa bertumbuh
Bapak dan ibu yang saya hormati,
Maafkan saya, berdiri lebih tinggi dari bapak dan ibu. Semoga bapak dan ibu tidak menilai kami tinggi hati, atau membuat kami dinilai sebagai orang yang tidak menghormati.
Bapak dan ibu yang saya hormati,
Terima kasih, telah menitipkan putra dan putri Anda pada kami. Tak mudah mengenali masing masing karakter dari mahasiswa dan mahasiswi, demi membantu membuat mereka menemukan jati diri mereka sendiri. Dan hari ini, masa masa itu, sudah mereka lewati.
Setelah mereka melalui pasang dan surutnya masa masa penuh tugas yang seperti tidak henti. Masa masa mereka harus melalui suara kami, penjaga kelasnya yang mungkin amat cerewet ini.
Diantara kami para pengampu kelas, ada yang sabar dan memiliki hati seluas samudera di selatan negeri.
Ada juga yang seperti saya, sosok yang lebih melesat suaranya, dibanding karyanya sendiri.
Sayalah pendidik yang mungkin putra dan putri bapak ibu sering ceritakan di rumah, sebagai pendidik yang cerewetnya “ngaudubillahi”.
Sayalah pendidik, yang mungkin sering diceritakan sebagai pendidik yang seringkali ngeseli.
Sebagai orang tua, saya yakin, bapak dan ibu lah yang paling paham, mengapa saya bersikap seperti itu selama mereka masih berstatus mahasiswa yang dititipkan pada kami.
Bapak dan ibu yang saya hormati,
Saya tinggal di Malang. Iya, kota yang berjarak sekitar sembilan puluh kilo dari tempat saya mengajar. Tiga jam perjalanan, menembus panas, angin, hujan, genangan, dan yang paling pekat, adalah bau tronton yang mengalahkan aneka parfum meski harganya jutaan. Demi apa?
Kelas yang putra dan putri bapak ibu ada di dalamnya.
Cerita saya itu, tidak lebih dahsyat dari cerita dosen pengampu mata kuliah lainnya, dalam keseharian mereka. Hanya saya merasa tak berhak mewakili mereka dalam menceritakan kedahsyatan keseharian mereka, demi putra dan putri bapak dan ibu sekalian.
Meski intinya sama,
Betul pekerjaan kami adalah mengajar mereka.
Tapi kami mengerahkan segala daya dalam mengajar, bukan demi pekerjaan belaka. Kami mengerahkan segala upaya, memikirkan cara dan menata dunia, demi mendidik putra dan putri bapak dan ibu sekalian.
Kami tidak sekedar mengajar, tapi lebih pada mencari cara, agar mahasiswa bisa belajar dan memperoleh sesuatu yang bermakna selama mereka belajar.
Saya juga mahasiswa, yang sudah waktunya diwisuda, saat ini sedang tesisan, saya mohon pangestu njenengan sekalian.
Saya melalui beberapa institusi pendidikan selama saya berstatus pencari ilmu di negeri ini. Dan selama itu, tak pernah sekalipun saya melihat institusi yang memperlakukan mahasiswa nya seperti institusi ini.
Karena konsentrasi pendidik cuma pada bagaimana mengajari, maka ketika ada masalah, saya langsung mengatakannya pada penanggung jawab pendidikan di institusi ini. Merekalah yang kemudian mengopeni -mengurusi dengan lebih mendalami-
Biasanya, saya menerima laporan setelahnya. Edu melakukan home visit, –mengunjungi mahasiswa di kediaman mereka sendiri.
Tidak pernah saya temui, institusi lain yang memperlakukan mahasiswanya seistimewa ini.
Bagi saya, seorang mahasiswa yang tinggal sembilan puluh kilometer dari kota ini, apa yang dilakukan lembaga ini, sudah sangat maksimal sebagai perwujudan dari sebuah kata “Demi …”
Bapak dan ibu yang saya hormati,
Ijinkan saya berbagi kata dengan mahasiswa di hari ini
Pada Anda, mahasiswa kami, tolong catat kalimat saya ini dalam sanubari
Mungkin bukan yang pertama, tapi bisa jadi, ini terakhir kali Anda mendengar saya berkata pada Anda, semoga sampai pada sanubari
Pertama, selalu gunakan hati nurani. Pasang logika, hanya setelah dibenarkan oleh nurani. Karena hanya dengan cara itu, Anda bisa menikmati keindahan kehidupan ini.
Kedua, jika ada yang bilang dunia lebih kejam dari ibu tiri, mereka salah. Dunia lebih kejam dari itu. Anda yang mengerahkan daya dan upaya berkalang waktu menciptakan sesuatu, bisa jadi, dunia tak juga tahu bagaimana caranya menghargai. Kekejaman dunia, bisa sampai pada “tidak bisa mengakui”. Maka, saya mohon, jangan cuma bertabah hati. Usahakan agar dunia menghargai. Mulailah dengan mencontohkan bagaimana cara menghargai. Ajak sekitar untuk saling dan terus menerus menghargai.
Ketiga, lakukan hanya hal baik. Kami, yang mengajari Anda ini, akan ikut terseret pengadilan al Ilmu di akhirat nanti, jika Anda memakai ilmu yang kami ajari, untuk menebar keburukan apalagi kesesatan di muka bumi. Begitu pula sebaliknya. Kami yang mengajari Anda ini, akan ikut terciprati sedikit pahala, manakala Anda menggunakan ilmu yang kami ajarkan selama ini, untuk menebarkan kebaikkan dan kemanfaatan bagi seluruh bumi. Maka tolong, lakukan hanya hal yang baik. Jika Anda memang menghargai kami.
Nurani, Menghargai, dan Hanya melakukan sesuatu yang baik. Tiga itu saja, saya mohon, Anda catatkan baik baik dalam sanubari.
Bapak ibu dan mahasiswa, juga para dosen dan staff institusi yang saya hormati.
Saya ucapkan selamat karena telah sampai pada titik ini.
Sejarah baru akan ditorehkan sejak saat ini.
Selamat atas kerja keras Anda semua, untuk sampai di titik ini.
Para mahasiswa, Anda sudah menjadi diri yang memiliki “jati” sendiri.
Selamat sudah menemukan kejatian diri, selamat telah selamat melalui segala aral untuk sampai di titik ini.
Bapak dan ibu yang saya hormati, dengan rendah hati, saya haturkan ini.
Kami mengantarkan mereka –putra dan putri bapak dan ibu sekalian– pada bapak dan ibu kembali, di hari ini.
Mari kita mulai berdoa, agar mereka menjadi manusia yang membawa kebaikkan dan kemanfaatan bagi negeri ini.
Atas nama pendidik yang selama ini menjaga putra dan putri bapak dan ibu sekalian, saya yang dhoif ini, memohon maaf yang sebesar besarnya, jika ada dari kami ada yang kurang mencocoki atau kurang sesuai dengan harapan bapak dan ibu sekalian, hingga ke saat ini. Maafkan kami.
Tuhan memang menaikkan derajat orang yang berilmu, namun surga tidak melulu berisi orang yang kesana karena ilmu.
Tuhan menghitung bagaimana kita memberi manfaat pada sekitar, selama nafas masih bisa kita lakukan tanpa alat bantu.
Semoga kita diselamatkan dari segala keburukkan karena ilmu.
Semoga kita diberi berkah dalam kehidupan, karena ilmu.
Aamiin.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
eny erawati
Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, enyerawati, filsafat islam, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, kehidupan kampus, kelasku, LP3i, mahasiswaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s