Gaya Belajar Pebelajar

1. Membaca buku
Ini gaya belajar biasa saja, semua orang biasa. Gaya belajar pertama yang setiap manusia diwajibkan berusaha untuk bisa.
Model ini berparadigma bahwa segala hal di kehidupan adalah ibarat huruf. Apapun adalah ibarat huruf. Dimana kejadiannya adalah kalimat. Susunan dari segala hal yang menjadi sebuah kejadian adalah sebuah kalimat. Dan kalimat itulah yang wajib bisa dibaca oleh manusia, tidak perduli apakah matanya buta atau sehat dan normal dalam melihat. Setiap manusia, sebagai entitas diri, wajib bisa membaca.

2. Mendengar lelagu
Ini gaya belajar yang mengandalkan pendengaran. Seperti halnya gaya belajar pertama diatas, gaya belajar ini bukan semata menyoal telinga. Bukan sekedar tuli atau tidaknya saja. Tapi soal mendengar yang mengandalkan pendengaran.
Mendengar suara orang yang sedang menyembunyikan sedih dalam tawanya. Mendengar suara orang yang sedang menyembunyikan rindu dalam nada formalnya. Mendengar suara orang yang sedang kagum dalam tunduk wajahnya. Mendengar suara orang yang jatuh cinta dalam tatap matanya.
Paradigma dari model ini sesederhana namanya. Mereka percaya bahwa segala hal di kehidupan adalah sebuah lagu yang indah untuk didengarkan. Setiap pesan teruntai lembut pada bahasa nada yang mampu menggerakkan nurani -sang hati yang tiada wujud raganya. Nurani, hanya bisa tergerak, manakala seseorang mampu mendengar -sesuara yang tak ternadakan.

3. Membatinkan segala sesuatu
Nurani, hanya tergerak jika seseorang sudah mampu mendengar sesuara yang tak ternadakan, menikmatinya hingga seperti lelagu.
Dalam setiap lagu, ada menaik dan menurunnya emosi yang terjalin dalam merdu. Tidak ada lelagu yang tidak merdu. Tidak ada lelagu yang dibuat tidak untuk dinikmati oleh pendengar yang merindu suara merdu. Segala yang terdengar nurani akan terasa merdu. Dari sanalah, batin akan menyuarakan sesuatu. Apa yang didengarnya, akan disuarakannya kembali, dalam suara sama merdu.
Paradigmanya sederhana. Tuhan tiada mencipta segala sesuatu, tanpa maksud mengajari kita sesuatu. Menjadi pebelajar adalah wajib, dari lahir hingga rumah masa depan berbentuk gundukan tanah itu telah terbuka untuk menerima kita. Pebelajar tak perlu ijasah, manakala yang dipelajarinya adalah kehidupan. Pebelajar telah dilengkapi dengan alat belajar yang pasti berfungsi seumur berkehidupan. Dan pebelajar akan mempertanggungjawabkan pemerolehannya dalam belajar begitu ia memasuki alam setelah alam kehidupan.

Saya dan Anda, kewajiban kita sama.
Sebelum bersuara dan memakai indera kita, tolong, sedetik saja, pikirkan bagaimana mempertanggungjawabkannya nanti di masa setelah kehidupan kita.

Love,
eny erawati Munif, 15022017

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, ilmu melihat, islam, islam phylosophy, Theories of Learning. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s