Mengusahakan Kepemilikan Pengalaman Hermeneutis

Jpeg

[bahasa indah untuk mengalibikan sesi rasan rasan my prof]

Pada luasan semesta pemikiran dan pemahaman manusia terdapat elemen yang bernama seni, pikiran, dan bahasa. Masing masingnya tentu memiliki deskripsi yang cukup panjang, dan dapat ditemukan detailnya. Dari ketiga elemen itu, lahirlah konsep yang disebut sebagai pengalaman, kesadaran, dan pemahaman.

Riilnya begini, dalam rentang hari, ada masa dimana kita bisa merasa haus atau lapar. Penalaran akan membimbing kita untuk mencari solusi dari keadaan haus atau lapar yang dianggap sebagai masalah dari kehidupan. Solusinya adalah minum atau makan, sesederhana itu.

Apakah secara ontologis memang sesederhana itu? Ternyata tidak. Kita paham, bahwa solusi dari lapar adalah makan. Namun kita juga paham, bahwa lapar memiliki rentang tingkat ke-lapar-an yang berbeda. Ada tingkat lapar sekali, ada yang agak lapar, ada yang lapar kudapan, bahkan ada yang hanya lapar mata. Pemahaman tentang tingkatan lapar ini lahir dari kedalaman pengertian kita akan daya terima atau daya tolak alat pencernaan kita sendiri. Pada faktanya, pengertian kita tingkatan lapar itu melahirkan keterampilan pemahaman dalam memilih solusi mengatasi lapar apapun tingkatnya.

Saya harus makan nasi dan karbohidrat berat lain, jika kondisinya adalah lapar sekali. Saya harus makan sesuatu yang manis tapi bersifat basa dalam lambung jika kondisinya cuma defisiensi gula darah. Dan saya hanya boleh makan protein non kacang jika saya butuh mengudap.

Maka adalah falasia jika saya memutuskan untuk makan kerupuk saat saya ingin mengudap. Falasia juga jika saya makan biskuit saat saya lapar berat. Dan falasia berat jika saya makan nasi goreng saat tengah malam, dimana jam makan malam sudah jauh berselang di belakang.

Namun demi pengalaman, saya seringkali menyengaja ke JCo, BakersKing, atau Starbuck sekedar untuk segelas green tea frappe dan sebutir donat. Bukan dalam rangka lapar atau haus. Tapi demi momen berada pada atmosfer ruangan dengan penerangan tungsten, dengan indera pengecap yang terkerudungi rasa manis, sementara indera lain mengembangakan fungsi empatiknya masing masing. Hidung mencatat aroma yang diciuminya dan menyuruh otak untuk mengenali nama nama aroma. Kulit meraba dingin udara, dan mencatat bagaimana manusia berbeda sikap karena suhu yang lebih dingin dari suhu tubuhnya. Aneka pengalaman yang dicatat sebagai pengalaman hermeneutis.

Lalu, suara my prof bergema di udara, “Eny itu senengnya makan JCo dan sebangsanya. Saya yang makan kerupuk seribu tiga saja bisa jadi profesor. Eny yang seneng ke JCo dan sebangsanya, akan bagaimana?”

Demi pengalaman hermeneutis, saya tersenyum saja pada seloroh my prof itu. Toh, tak mungkin saya ke starbuck setiap hari. Seminggu sekali pun, tak mungkin. Saya secara de facto lebih asosiatif dengan jus dan tahu di kafe pustaka daripada JCo atau Starbuck, betapapun orang membrandingnya.

Demi pengalaman hermeneutis, saya selalu mengusahakan mampir di Starbuck tol Surabaya Malang, bukan semata mencari obat ngantuk atau tempat pipis belaka. Namun untuk mengamati display merchandise, yang tampak jauh lebih memikat dan dibanding di gerai starbuck di mall di dalam kota. Saya belum paham kenapa atau bagaimana bisa.

Display mechandise ditata dengan gaya mirip gerai L’Occitane. Tapi saya masih tak kunjung paham, mengapa memberi efek berbeda dibanding jika melihat display yang bergaya sama namun di mall biasa.

Pengalaman melahirkan pengertian akan kebenaran.
Kebenaran adalah sesuatu yang jika sekali diperoleh tidak akan bisa diragukan lagi (Descartes).
Dari pengalaman, kesadaran akan ditumbuhkan, dan pemahaman akan dibesarkan. Lahirnya pengalaman dalam medium sejarah inilah yang dimaksud sebagai pengalaman hermeneutis oleh Gadamer.

Demi pengalaman hermeneutis, saya merawat perilaku ‘kakean polah’ saya. Alibi untuk mengelak dari judgment prof atas kegemaran saya pada sesuatu yang memang pada faktanya tidak substantif.

Atas nama ilmu, semoga sedikit membuka wacana.
eny erawati, 20032017

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s