Bayangkan Transportasi Kotamu

autolightalks enyerawati02

Bayangkan [Transportasi] Kotamu

eny erawati

Aku tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di luar Indonesia, belum. Dan aku pensiun berkendaraan umum di kotaku sendiri sejak SMA, tapi memiliki dalil paling shahih bagi sesiapa yang ke Jakarta: the best people livin in Jakarta is the mass-trans-user.

Bukan cuma soal murah, tapi soal stress free -jika kau mahir mengubah perspektifmu. Dibanding mengendarai sendiri, maka tertidur di mass-trans adalah fase tampilan paling buruknya manusia yang selalu dimaafkan oleh Jakarta. Semua orang akan memaafkan tampilan terburukmu itu. Dan terberkatilah Jakarta karena satu hal itu. Hal lain adalah gerbong khusus wanita. Tak perlu banyak cakap untuk mendeskripsikannya.

Generasi Z adalah penginvasi planet bumi yang tak terelakkan. Dua tahun lagi, filosofi hidupmu harus ganti. Manusia sepertiku -yang katamu sok ngeksis, dan tak henti terkoneksi ke dunia digital maka berarti tak ada kerjaan- akan menjadi sosok yang lebih lumrah dan lazim dibanding manusia dengan mindset setiap orang harus menjaga kesucian pencitraan.

Jika kau tak terbiasa denganku saat ini, maka besar kemungkinan kau akan lebih jantungan melihat sekitarmu, dua tahun lagi. Bisa jadi lebih cepat dari itu.

Siapa generasi Z?

Manusia yang berfilosofi: berkehidupan dan berteknologi adalah jalinan. Teknologi adalah tekstil alias jalinan kehidupan. Kehidupan adalah entitas yang manusia ada di dalamnya, menjadi subyek, verba, sekaligus obyeknya. Teknologi juga begitu, entitas yang menubuh dengan manusia.

Maka dunia adalah dunia nyata dan dunia maya. Tidak boleh setengahnya saja. Apapun yang ada di dunia nyata, jika tak ada di dunia maya, maka namanya belum ada. Apapun yang ada di dunia maya, harus ada untuk menyata di dunia fisikal. Tidak boleh setengahnya, dan tidak boleh bersenggang waktu lama.

Transportasi adalah kenyataan di dunia nyata. Tapi tak ada di dunia maya. Maka, diciptakanlah transportasi dunia maya, yang juga akan nisbi jika tidak dijumpai di dunia nyata. Hukum resiprokal ini adalah paradigma yang tetap dan pasti terjadi pada apa saja. Bahkan sampai hal yang paling privat semacam celana kecil atau deodoran yang dipakai manusia.

Menyikapinya dengan menafikannya adalah mindset yang kwalik. Anda akan segera di museumkan oleh generasi Z jika masih memakai pola berpikir yang demikian. Seperti yang saya tuliskan, mereka akan menginvasi dalam dua tahun ke depan, atau bahkan lebih cepat. Dan Anda adalah agen yang akan dimuseumkan duluan jika tak segera berstrategi untuk dapat bertahan. Minimal, Anda harus berstrategi untuk mempertahankan kharisma kesenioran, jika masih mau bertahan di kehidupan jaman.

Jika memuseumkan manusia Anda anggap sebagai becanda, maka jika suatu saat nanti Anda menemukan sebuah kampung bernuansa tradisional-modern (bukan bernuansa digital) dimana satu satunya yang digital adalah jalur video call; saat itulah Anda akan mengingat saya dengan sebutan museum manusia ini.

Museum manusia adalah ide panti jompo yang di’lebih-manusiawi-kan’. Dibesut dengan berbagai strategi pencitraan. Intinya sama, memuseumkan manusia karena mindsetnya. Dimana secara fisik, mungkin mereka masih bisa memproduksi apapun yang berupa keterampilan kekriyaan. Tapi karena mindsetnya, mereka seperti artefak di kotak kaca. Berada menghuni sebuah jaman, tapi tak bersentuhan dengan jaman. Apa namanya jika bukan museum?!

Transportasi pun demikian. Dia harus ada di dunia nyata, namun juga harus bisa disentuh dengan teknologi di dunia maya, dan harus ada buktinya di dunia nyata, gak pakai lama. Struktur workflownya jelas, yakni fixed rules, fixed time, fixed price. Satu aturan, berwaktu tetap, dan berharga pasti. Mereka yang tidak memakai filosofi ini, akan otomatis termuseumkan.

Mass-trans saat ini sebagian besarnya dikelola swasta. Ini yang akan termuseumkan duluan, kecuali mereka mengubah struktur mindsetnya. Pengelola mass-trans swasta cenderung menyalahi fixed price dan fixed time. Ini masalah terbesarnya. Mau duduk bermeja-bundar seribu kali pun, jika tidak segera menyadari hal ini, ya tidak akan ketemu solusinya.

Mass-trans akan harus -mau tidak mau- dikelola oleh pemerintah kota. Di Indonesia, mass-trans swasta hanya logis jika dioperasikan di desa yang tidak bersentuhan dengan kota. Selainnya, harus dikelola pemerintah. Mass-trans desa-kota harus diurusi oleh pemerintah propinsi. Dan mass-trans antar kota harus diurusi oleh negara. Saya serius.

Pertimbangannya karena teknologi kontrolnya yang harus ‘bisa disentuh dengan teknologi via dunia maya’. Maka pemkot ya harus mengurusi mass-trans kotanya sesuai kapasitasnya, yang HARUS bisa disentuh dengan teknologi via dunia maya. Tetap dengan menerapkan 3 aturan yaitu: fixed rules, fixed time, fixed price.

Berstrategilah untuk mengubah mindset Anda sekarang. Atau, mulailah membayangkan bagaimana bentuk museum manusia dengan Anda sebagai penghuninya. Dan ini bukan ancaman. Ini prediksi yang akan segera menjadi nyata, tergantung pada sikap Anda menghadapi perubahan jaman yang tak terelakkan.

Karena hanya manusia yang bisa berstrategi; teknologi hanyalah alat belaka. Kebetulannya adalah teknologi melekat menadi; menjadi darah manusia atas nama jaman.

eny erawati 04052017

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, enyerawati, fenomena, ilmu melihat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s