Tuhan dan Ridho-Nya

IMG-20170509-WA0016[1]

Tuhan dan ridhonya

Sekian hari lalu, aku sedang didukani karena mengutarakan satu fakta –di duniaku itu adalah fakta. Aku didukani karena bagi telinga, fakta itu adalah suara kesombongan dan tingginya diri dalam memasang strata. Ke-jumawa-an, katanya.

Pada akhirnya aku diam, karena fakta tak pernah perlu dibela, atau dijelaskan. Biarkan saja. Nanti kan ketemu, bentuk titik temunya di sebelah mana. Kala sudah waktunya.

Begitu sampai rumah, aku cerita pada mommy, berebut perhatian mungsuh yutuban pengajiannya. Hobinya mommy ngeliat bib ganteng-ganteng, dan kyai lucu-lucu. Dan ceritaku, kalah pamor dibanding bib ganteng itu. Ya iyalah.

Mulanya mommy mengiyakan pendapat bahwa fakta yang kubicarakan adalah kejumawaan. Tapi kemudan terdiam dan mulai mendengarku.

“Ahli ilmu foto dan fotografer itu jelas berbeda. Lalu fotografer dan fotografer ahli, sangat jauh berbeda. Andai, semua ahli adalah akademisi, maka pemerintah tak perlu melipat sebuah jurusan karena kekurangan doktor dan tidak ada profesornya. Logis saja kan?!”

Kalimat jumawa nya dimana? Sebuah tanya yang melindap dan menguap bersama asap.

Lalu, kemarin, 4 hari dari sesi ngobrol itu, tepat di tengah hari, tetiba aku dikabari. Ada tamu yang datang ke jurusan kami. Seorang profesor ilmu media rekam dari bagian tengah pulau ini.

Aku segera berstrategi, agar aku bisa numpang mengambil keuntungan untuk diriku atas momen ini. In the name of al ilmu, demi ilmu, dan keilmuan fotografi. Sambil tentu saja, numpang ikutan selfi.

Usai menyampaikan maksudku, aku berbalik badan, menghadap beliau yang kemarin mendukaniku. “Saya nemu profesor media rekam” kataku, ribut sekali. Well, aku, tak pernah tak pakai ribut. Segala-gala kubuat ribut. Hidup adalah merayakan kehidupan. Mana ada, namanya perayaan tapi tidak ribut. Yo pasti ribut-lah. Namun keributan yang meributkan kebahagiaan.

Mengapa aku bersegera menemui beliau yang mendukaniku? Karena aku sangat yakin, bahwa selain mommy, para pemegang piket momong manusia mbegedud sepertiku itu, memiliki jatah sebagai validator ridho Rabbuna. Sungguh, sudah kubuktikan berkali kali, kala beliau tidak ridho, gerakku suuuuuper berat, susah, dan adaaaaaaa saja masalahnya. Mirip dengan kala aku sedang berbeda pendapat dengan aba atau mommy.

So, inilah akhir ceritaku padamu, teman. Tentang Tuhan dan caraNya memberikan riho. Sungguh, bahkan andai sedunia tidak percaya, aku tetap akan percaya pada kalimatullah itu. Ridho Allah tergantung pada orang tuanya. Dan guru, menempati tempat kedua setelah orang tua.

Didukani pasti soal adab. Dan mau aku membela diri pakai alfabet model apapun, posisiku tetaplah anak/santri/murid. Jika para pemangku piket itu sudah mulai menelepon Rabbuna, dengan caranya yang semua anak di dunia ini tak akan dapat memahaminya, maka Rabbuna akan lebih mendengar suara dari para kepanjangan tanganNya ini dibanding suara manusia mbegedud model sepertiku; model koyok awakmu pisan seh. Maka jangan main main dengan momen itu. Ridho Rabbuna hanya turun jika mereka -para kepanjangan tangan langit ini- yang memintanya. Bukan karena usahamu bro!

Aku belum pernah membuktikan apakah yang terjadi manakala sang guru tidak seiman dengan kita. Aku tidak tahu. Pokok secara adab dalam agamaku, tulisannya begitu.

Kembali ke laptop: fakta atau kalimat kejumawaan, status validitasnya akan kalah telak dengan samting yang nir-wadag bernama ‘ridho Rabbuna’.

Maka jika kau mau meminta sesuatu, tirulah caraku. Masio kadang aku yo lali. Cara bahasaku begini, “Kalau njenengan tidak ridho, maka Tuhan juga tidak akan memberikan ridhoNya lho” dan dibaliknya adalah sebuah kalimat sirri: kalau Tuhan saja males memberi ridho, kebayang kan betapa sakit dan susahnya hidup saya?! Tega ya?!

Kalimat yang manis bukan?!

Para dosen pembimbing tesisku, saat ini adalah para kepanjangan tangan langit itu. Dan aku, sedang berjejumpalitan, antara berjalan, berlari, dan berenang demi mencapai sebuah titik dalam hidupku.

Ini adalah topik paling kekinian dari cara Rabbuna sedang bercanda denganku.  Kalian silahkan mengambil hikmah yang ingin kalian ambil. Terserah saja. Silahkan saja. Aku tetap di cakrawalaku, dan kalian tetap di cakrawala kalian.

Tanda cinta, eny erawati binti Munif, 10052017

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, filosofi islam, filsafat islam, ilmu melihat, kehidupan kampus, My and My Prof. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s