Buku Kami, the eny way: Estetika Pendidikan Seni Rupa

Desain cover saya ambil dari sebuah keterpukauan saya pada dua hal: pertama, wayang model baru buatan mbah Siswo –the oldest student in our class-, dan buku Aesthetics and Ethics Jerrold Levinson terbitan Springer ini.
2017-12-30_04-48-27
Technically, menggabungkan keduanya dalam satu halaman sampul buku adalah mudah. Tapi the real achievement yang menurut saya paling outstanding adalah desain judulnya. Karena jika ditulis biasa, maka tidak ada “drama” pada sampul buku itu. It has to be using the design way, the eny way.
Secara visual, judul buku berubah total, dari “Estetika Pendidikan Seni Rupa” menjadi “est-etika: pendidikan seni rupa”. Membawa pesan bahwa estetika -yg diterjemahkan sebagai keindahan- lahir dan ditumbuhkan dari etika yang kemudian menjadi makhluk bernama seni rupa. Tentu saja membawa siapapun yang membacanya (para literat) untuk kembali pada Nichomachean Ethics.
Saya mendapati seorang teman “diutus” untuk bertanya pada saya, kenapa judulnya “etika” ? kenapa bukan “estetika” ? Dan saya cuma tersenyum.
Saya ingat saya cemberut pada prof Djoko Saryono, pengampu kami soal buku itu: “Saya kok tidak ditanyai kenapa judulnya saya buat begitu?” Dan beliau dengan gayanya menjawab enteng, “Wong saya sudah tahu jawabannya kok”.
Saya tetap mecucu, meski saya yakin betul bahwa beliau mengatakan kebenaran. Secara, buku Jerold Levinson itu memang saya dapatkan dari beliau.
My prof is my prof, dan saya anaknya my prof -meski belum tentu beliau nya mau jadi bapak saya.
Iklan
Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Patologi Sosial: Berbohong

“Siapa yg sejam setelah posting di sosmed, tidak ada yg nge-like, lalu postingannya dihapus? Pasti banyak ya?!” tanya prof Rhenald Kasali

Aku melongo, sekaligus tersadar bahwa itu adalah fenomena. Dan harus dipahami sebagai fenomena sosial.
Lalu bahasan dilanjutkan. “Like” telah menjadi bisnis. Kenapa, karena demand nya ada. Kebutuhan apa? Kebutuhan akan pengakuan diri….

Logikaku bertanya: siapa sih yang mengakui atau tidak mengakui keberadaan kita di sosmed?! Bukankah saya dan mereka sama-sama maya nya?!

Tidak berhenti di situ, di sebelahku, seseorang berkata, “saya jualan like”.
Darinya aku tahu berapa harga “like” itu. Darinya aku yakin dan terkonfirmasi bahwa kepalsuan like sebagai alat ukur apresiasi adalah tidak reliabel dan jauh dari valid.
Insaflah wahai umat sosmed.

Di depan, prof Rhenald masih terus berkata: ini jaman esteem. Orang bisa melakukan apa saja termasuk berbohong hanya demi self esteem.

Teman2ku di fotografi pasti sangat ingat betapa aku menolak ide ngitungin “like” dari jaman baheula. Dan selalu marah jika mengukur sesuatu dari jumlah like nya.
Instingtif sebenarnya. Dan ternyata benar.
Bangsa kita mengidap penyakit sosial yang terlalu akut: tukang ngakal.
Untuk tujuan baik atau setengah baik, apapun selalu disikapi dengan “ngakal”.
Bisnis like itu riil, besar atau kecil omsetnya, tapi bisnisnya riil. Lahir dari kebutuhan “pengakuan” di sosmed. Didasari filosofi: bohong itu benar selama tidak ketahuan.

My prof, prof Djoko Saryono pernah membahas patologi sosial di jaman Post Truth ini. Setahun lalu. Aku cuma ingat bahwa saat itu hari jumat dan beliau baru turun dari Jakarta. Memakai baju koko putih dan jas hitam, berbicara tentang “penyakit bohong” di kekinian jaman -era paska kebenaran. Hari itu, di mataku, beliau lebih “ustadz” daripada “prof”, mengingat konten bahasannya.

Patologi sosial berupa “kebiasaan berbohong” itu riil. Dan dilakukan terbuka seolah normal. Tidak ada yang menghukum kebohongan dan karenanya makin banyak yang terjangkiti penyakit sosial itu. Bahkan bisnis yang memberi makan penyakit sosial itu pun tumbuh diam-diam. Riil -berapapun omsetnya. Dan kita akan lama lama tertulari penyakit yang sama, dengan bertingkah sok beken, sok kaya, sok berpengaruh, sok “riil”. Padahal statusnya sama-sama “maya” nya.

Eny Erawati, 20122017

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Photography Shifting Trends

Teori Fotografi

Shifting itu sudah mengenai segala hal dan semua orang. Mereka yang bisa bersikap bijak menghadapinya akan selamat.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Seni dan Budaya

Seni dan Budaya
(Catatan untuk ditanyakan ke my prof)

“Jika seni adalah untuk menghidupkan akar budaya, maka kita harus membebaskan seniman mengikuti petunjuk nuraninya.
Kita harus ingat bahwa (fungsi) seni bukanlah bentuk propaganda, seni adalah bentukan kebenaran” John F Kennedy dikutip oleh Brainpicking.

Pertanyaan saya prof:
1. Seniman jaman now itu yang kayak apa?
Pada orang dengan kapasitas yg bagaimana kita “bisa” menganggapnya seniman, memberikan kebebasan padanya untuk mengikuti nuraninya, dan mempercayai kebenaran yang dia ungkapkan sebagai kebenaran?!
Seniman jaman now itu modelnya yang kayak apa?

2. Seniman jaman now, tidak bisa memurnikan dirinya dari budaya kapitalisme dan industrialisme. Wong segala hal di negeri ini diukur pake sertifikasi dan ijasah, atau minimal lomba.
Jika seni adalah akar budaya, bagaimana bisa batang pisang diharapkan menumbuhkan akar pohon jati?

Referrence:
https://www.brainpickings.org/2015/05/01/jfk-amherst-speech/

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Antara Harapan dan Patah hati

Antara harapan dan patah hati

Putus asa, tapi harus usaha
Lelah, tapi tak punya solusi lainnya
Antara harapan dan patah hati,
Hari ini, patah hati …
18102017

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Yang Paling Berkesan dari Wisuda UM

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Bangsa yang Dibela Wali

Bersebangsa dengan manusia yg nalarnya macet cet cet !!!
Gusti, berikanlah kasihMu pada daya nalar bangsa yg dibela para wali ini. Aamiin.

Eny Erawati

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar